**Disclaimer: Semua ulasan di sini lahir dari pengalaman pribadi saya sebagai pembaca. Saya bukan ahli, hanya seseorang yang mencintai buku dan menuliskannya dari sudut pandang sendiri.
Saya akan terus terang, buku Norwegian Wood nggak cocok dibaca oleh orang yang memiliki masalah mental health. Buku ini bercerita tentang karakter-karakter yang punya depresi berat.
Bagi saya, nggak ada karakter yang membawa sisi positif, seluruh tokoh ditulis dengan sisi gelap yang lebih menonjol. Tapi, bukan berarti buku ini jelek, ya. Tulisan Haruki Murakami nggak pernah meragukan, hanya saja kita perlu menyesuaikan diri dengan kondisi mental kita.
Saya Suka & Tidak
| Suka | Tidak |
| Membungkus kisah dark dengan padanan kata yang mudah dimengerti | Bikin gelisah, sangat tidak dianjurkan bagi yang punya isu mental health |
| Feeling karakter tersampaikan dan bisa terbawa suasana | |
| Karakter banyak tapi tidak ada yang sia-sia |
Kelebihan Buku Norwegian Wood
Saya baca buku Norwegian Wood versi terjemahan bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh KPG. Karena ini adalah pengalaman pertama saya baca karya Haruki, bayangan saya sangat jauh berbeda dari ekspektasi yang saya bangun.
Banyak yang bilang kalau buku Haruki itu absurd, tapi yang ini kok justru realistis sekali. Sangat dekat dengan kehidupan. Meskipun saya nggak punya lingkungan terdekat yang memiliki masalah serupa, tetapi isu-isu mental health sangat sering terjadi, apalagi di negara asal Haruki, Jepang.
Lewat buku ini memverifikasi berita-berita yang pernah saya dengar, kalau Jepang mempunyai histori tingkat bunuh diri yang tinggi, dan salah satu pemicunya adalah kesepian. Persis dengan cerita buku ini.
Walau cukup dark, saya terkesan dengan ide konsep cerita Norwegian Wood yang berhasil bikin saya sangat gelisah sekaligus penasaran lanjut baca. Sudah tahu nggak nyaman tapi tetap lanjut.
Semua karakter nggak ada yang sia-sia, punya kisah masing-masing dari sudut pandang Watanabe sebagai karakter utama. Ending cerita juga cukup mengejutkan, bukan plot twist tapi lumayan mencengangkan. Saya masih nggak habis pikir sampai saat ini.
Kekurangan Buku Norwegian Wood
Saya nggak menemukan kekurangan yang berarti selain ada satu typo yang sebenarnya juga tidak mengganggu.
Tapi ada satu hal yang bikin saya penasaran, kenapa buku ini terbit dengan rate usia 15+? Dengan isu yang cukup sensitif, banyak adegan eksplisit, dan kata-kata vulgar, menurut saya pencantuman usia pada cover belakang kurang pas. Tapi kembali lagi pada kehendak penerbit, toh saya juga tidak tahu menahu soal standar usia baca.
Dari buku ini saya malah jadi tertarik baca karya Haruki Murakami yang lainnya.



