**Disclaimer: Semua ulasan di sini lahir dari pengalaman pribadi saya sebagai pembaca. Saya bukan ahli, hanya seseorang yang mencintai buku dan menuliskannya dari sudut pandang sendiri.
Terlahir berdekade-dekade lalu tapi harumnya tetap ada sampai saat ini. Apalagi kalau bukan Animal Farm, buku satir politik karya George Orwell yang menguliti soal kekuasaan, propaganda, dan korupsi lewat cerita hewan.
Saya nggak bisa berhenti kagum, bagaimana bisa buku yang sudah lama ditulis tapi relevansinya masih tetap kuat sampai saat ini. Saya yakin nggak cuma saya saja yang merasa demikian.
Apalagi kalau dikaitkan dengan negara kita tercinta ini, aduh… pas banget.
Langsung saja, yuk, baca review buku oleh saya di bawah ini.
Plus Minus
| Pros | Cons |
| Menggunakan karakter hewan merupakan penulisan yang sangat jenius untuk topik yang cukup berat | Ada beberapa kalimat terjemahan yang kurang jelas dan sulit dipahami |
| Relevan dengan negara manapun, terutama Indonesia | Tidak ada penjelasan nasib pasti Snowball, agak menggantung |
| Analogi-analogi menarik | |
| Alur yang mudah dipahami | |
| Buku cukup tipis |
Kelebihan Buku Animal Farm
Buku ini memang nggak secara gamblang berbicara tentang politik, tapi di situlah letak kejeniusan George. Ia menyamarkan kritik sosial dan politik melalui analogi peternakan dan hewan di dalam cerita.
Pertama kali baca, kesannya sih seperti cerita dongeng tentang binatang. Tapi, makin banyak lembaran yang saya baca, semakin terasa bahwa buku ini adalah sindiran tajam terhadap kekuasaan, penindasan, dan ideologi yang disalahgunakan.
Punya pesan yang besar dengan penyampaian yang sederhana dan ngena. Cerminan tajam terhadap kondisi sosial yang masih relevan hingga hari ini.
Kekurangan Buku Animal Farm
Karena saya membaca buku Animal Farm versi terjemahan ke bahasa Indonesia, saya merasa ada beberapa kalimat yang terasa dipaksakan sehingga sulit dipahami. Sempat beberapa kali bolak-balik untuk memahami alur ceritanya. Overall, buku versi terjemahan yang saya baca saat ini masih nyaman dibaca, kok.
Baca Juga: 3 Buku Mengubah Hidup, Pengalaman Pribadi
Lesson Learned
Setiap buku membawa pelajaran penting, apalagi buku Animal Farm. Bagi saya, inilah pelajaran-pelajaran yang bisa saya serap:
1. Jadilah pintar dan benar
Babi-babi dalam cerita ini digambarkan sebagai hewan yang cerdas dan kreatif. Tapi, mereka malah menggunakan kepintarannya untuk memanipulasi dan menindas hewan lain.
Buku ini jadi pengingat, kepintaran tanpa hati nurani bisa berubah menjadi alat yang ganas. Yang lebih penting adalah bagaimana kita mengggunakan kepintaran untuk melakukan kebaikan bersama.
2. Jangan mau dibodohi
Kebanyakan karakter hewan lain, seperti kuda, terlalu bodoh dan lemot menyadari bahwa mereka dimanipulasi. Sudah merasakan kerugiannya tetapi tetap memihak yang salah karena kurangnya kesadaran. Lagi-lagi akar masalah pada kebodohan akibat kurang terdidik.
Perbaiki kualitas diri dengan memperbanyak ilmu, banyak baca, sering belajar. Semakin banyak kita tahu, semakin kecil kemungkinan kita dibodohi.
3. Belajar menahan nafsu
Ada nggak, politisi yang dulunya dikenal baik dan memihak, tapi berubah total setelah punya jabatan? Oh, banyak.
Salah satu faktornya adalah tidak dapat menahan kendali diri. Punya pengaruh dan materi berlimpah ruah memang menggoda. Ingin incip sana dan sini, tanpa sadar kebablasan.
Sama persis dengan cerita Animal Farm, buku ini juga menyindir bagaimana ambisi yang tidak terkendali bisa menghancurkan segalanya. Napoleon ingin berkuasa mutlak, sampai-sampai mengkhianati semua nilai awal revolusi.
Dari sini saya belajar, keinginan besar tanpa kendali bisa membawa petaka besar, bukan kita saja yang merugi, tapi orang-orang yang tidak bersalah juga terkena dampaknya.



