Setiap orang memiliki muse sebagai inspirasi untuk bangkit menjadi versi lebih baik. Ada yang terinspirasi dari keluarga sendiri, penyanyi, figur terkenal, drama korea, dan sebagainya.
Tidak jarang juga banyak yang terinspirasi dari buku bacaan, termasuk saya sendiri. Bagi saya, salah satu sumber yang mampu mengubah hidup saya adalah buku. Nggak cuma sekedar untuk mengisi waktu luang dan menghibur diri di kala suntuk.
Terkadang buku bisa menjadi penolong dari pikiran negatif, pemberi solusi saat saya merasa buntu, bahkan menuntun saya menemukan jati diri saat dilanda krisis identitas.
Oleh karena itu, saya ingin membagikan apa saja buku yang bisa mengubah hidup saya pada kamu. Siapa tahu, beberapa buku-buku yang akan saya sebutkan nanti bisa menolong kamu juga. Simak baik-baik, ya.
1. Masih Belajar

Siapa sih yang nggak kenal Ruangguru? Startup edutech ini ternyata berakar dari sosok Iman Usman yang selalu ingin belajar, berkembang, dan berbagi.
Saya nggak akan pernah bosan merekomendasikan buku Masih Belajar karya Iman Usman ini untuk dibaca siapapun. Kenapa? Karena saya pernah merasa paling tahu saat baru menyelami hal baru. Mungkin kamu juga pernah.
Ternyata perasaan jumawa ini bisa membatasi kita pada kesempatan-kesempatan yang lebih besar.
Kita bisa jadi malas belajar hal baru, tidak mendengarkan masukan orang lain, dan gegabah mengambil langkah. Peluang-peluang emas bisa jadi nggak kita dapatkan hanya karena merasa ilmu kita sudah cukup.
Lewat Masih Belajar, saya jadi paham memiliki mindset haus belajar bisa menampung ilmu yang lebih bervariasi, membuka lebih banyak peluang, dan membuat kita lebih rendah hati.
2. Set Boundaries: Agar Hidup Kita Tenang

Kalau kamu gampang nge-iya-in omongan orang, coba baca buku ini. Setelah saya membaca Set Boundaries, ada perubahan besar dalam cara saya bersikap sehari-hari.
Tertera jelas pada judulnya: membuat batasan. buku ini mengajak kita untuk membuat batasan. Baik antara diri dengan diri sendiri, maupun antara kita dan orang lain.
Maksud dari buku ini sejalan dengan buku Filosofi Teras, hampir sama-sama berlandaskan pada stoikisme. Namun bedanya, buku Set Boundaries memberikan panduan yang lebih teknis dan detail. Cocok banget buat kamu yang butuh langkah-langkah konkret.
Awalnya memang terasa tidak mudah. Saya yang terbiasa mengiyakan permintaan orang lain, merasa tidak enak atau sungkan setiap saya bilang “tidak”.
Tapi perlahan, orang-orang mulai menghargai dan memahami batasan yang saya buat.
Dan benar, membuat batasan bikin hidup lebih tenang. Nggak perlu terus-menerus memikirkan asumsi orang lain, dan lebih terhindar dari pikiran negatif yang melelahkan.
Baca Juga: Review Novel: Laut Bercerita Karya Leila S. Chudori
3. Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya

Tentang Cak Dlahom yang hidup sendirian, tanpa istri dan anak. Dianggap gila oleh warga sekitar karena perilakunya yang sering bikin elus dada. Tapi, justru sosok Cak Dlahom yang dianggap sinting ini malah memberikan pelajaran soal bagaimana harusnya kita beragama.
Secara garis besar, buku ini memberikan gambaran bahwa jadi seseorang yang beragama seharusnya tidak hanya meningkatkan hubungan secara vertikal ke Tuhan saja, tetapi juga horizontal sesama manusia.
Ibadah nggak cuma sekedar formalitas buat “absen” kalau punya agama atau FOMO belaka. Tetapi juga mengamalkan dengan nalar dan kesadaran.
Salah satu analogi yang membekas buat saya adalah Cak Dlahom membandingkan sedekah seperti buang air kecil atau besar. Kita benar-benar nggak ingat kapan dan berapa kali melakukannya. Itulah sedekah yang ikhlas tanpa perhitungan.
Selesai membaca buku karya Rusdi Matahari ini, saya sempat bertanya-tanya ke diri sendiri: apakah ibadahku hanya untuk kepuasanku sendiri?
Setiap bab berisi refleksi yang menampar dan menyadarkan saya untuk lebih jujur dalam beragama.
Baca Juga: Review Novel: Aroma Karsa Oleh Dee Lestari
Kalau kamu sedang mencari buku yang bisa membawa perubahan nyata dalam hidupmu, ketiga buku ini layak kamu pertimbangkan.



