Review Novel: Nadira Karya Leila S. Chudori

**Disclaimer: Semua ulasan di sini lahir dari pengalaman pribadi saya sebagai pembaca. Saya bukan ahli, hanya seseorang yang mencintai buku dan menuliskannya dari sudut pandang sendiri.

Kali ini, saya akan mengulas buku berjudul Nadira ditulis oleh Leila S. Chudori terbit di tahun 2009. Jangan ditanya soal kualitas penulisan dari sastrawan perempuan satu ini.

Pada bab awal, saya diantar ke tahun 1900-an, menyaksikan bagaimana benih romansa terbentuk antara Bram dan Kemala, yang kemudian menjadi orang tua Nadira. Awalnya saya mengira buku ini akan banyak cerita tentang kisah cinta orang tua Nadira kemudian cerita Nadira itu sendiri.

Ternyata novel Leila tidak hanya berpusat pada itu saja. Saya diajak mengenal berbagai karakter lainnya, kisah-kisah kehidupannya, dan yang paling penting bagaimana mereka menggambarkan sosok Nadira yang mereka kenal.

Plus Minus

Langsung saja, ini adalah beberapa poin ulasan dari buku novel Nadira.

ProsCons
Latar belakang orde baru dan masa kini, menambah wawasan apa yang terjadi pada masa ituBeberapa karakter baru yang tidak penting
Diksi yang bervariasiKarakter krusial seperti Kumala dan alasannya bunuh diri tidak dijelaskan
Ide tiap karakter punya ciri khas masing-masingAlur lompat-lompat yang tidak smooth
Mengangkat masalah saudara kandung yang relevan terjadi di realitaPenggambaran karakter yang kurang relevan di dunia nyata
Mengangkat isu kekeluargaan, hubungan antar anak dan orang tua yang kurang baikEnding anti-klimaks

Kelebihan Novel Nadira

Saya pribadi sangat menyukai novel yang memiliki latar belakang jaman dulu, era sebelum saya terlahir. Di bab pertama Nadira, saya memperoleh ilmu baru mengenai sejarah yang belum pernah saya dapatkan selama sekolah.

Leila menggambarkan Bram dan Kemala bertemu saat demonstrasi terjadi di Paris. Saat itu, mereka merupakan mahasiswa dari dua universitas berbeda. Karena latar belakang keduanya yang sama, yaitu dari Indonesia, mereka merasa ‘terjalin’ dan hubungan terus berlanjut.

Alur novel Nadira maju mundur, saya dipaksa mengerti jalan cerita dengan alur waktu berbeda dalam satu bab. Namun, justru inilah yang menjadi keunikan dari gaya penulisan Leila. Meskipun saya ditarik maju mundur selama membaca novel ini, kosa kata Leila sangat bervariasi.

Leila sangat cerdas mengolah diksi sehingga setiap kalimat selalu terasa baru dan tidak membosankan. Kosa kata yang kaya sangat cocok dengan alur cerita kompleks seperti novel Nadira. Walau diksinya bervariasi, bahasa yang disampaikan mudah dipahami.

Apalagi isu yang diangkat cukup relevan terjadi di sekitar, seperti masalah internal keluarga. Antar anak, anak dan orang tua, orang tua dan menantu. Dengan kemasan kata-kata sangat baik, isu tersebut mudah sekali dipahami dan terasa relevan.

Kekurangan Novel Nadira

Novel Nadira memiliki lebih dari dua point of view atau sudut pandang. Nadira, orang tua Nadira, kakak Nadira, Tara, Desainer, Office Boy, dan beberapa lainnya.

Saya rasa jumlah sumbangsih sudut pandang terlalu banyak untuk buku setipis Nadira. Sayang sekali, banyak sudut pandang yang menurut saya tidak penting justru buang-buang. Misalnya, rekan-rekan kerja Nadira, menggambarkan sosok Nadira yang mereka kenal. Jujur, ini adalah bagian yang cukup membosankan.

Saya malah menyayangkan kenapa kisah Kemala sangat menggantung, tidak dijelaskan alasan Kemala bunuh diri, bagaimana penggambaran sosok Bram sebagai suami. Padahal menurut saya kunci dari novel ini justru pada ibu Nadira, yaitu Kemala.

Selain banyak karakter yang sia-sia, alur cerita terlalu gamblang lompat-lompatnya alias tidak smooth. Saya butuh berkali-kali membaca ulang kalimat atau halaman sebelumnya untuk memahami maksudnya setiap alur melompat. Untung saja Leila sangat baik mengemas kata-kata sehingga tidak begitu lama saya perlu memahami jalan cerita.

Kemudian yang menjadi kekurangan novel ini adalah ending yang anti-klimaks. Terlalu banyak kisah yang tidak selesai, contohnya siapa yang menjadi pelabuhan cinta terakhir Nadira, alasan ketidakakuran Nadira, Nina, dan Arya, kejelasan hubungan Novena dengan Tara, alasan Nina bercerai dengan suami, dan masih banyak lagi.

Saya menilai cerita ini didominasi anti-klimaks, pembaca dituntut untuk berimajinasi sendiri, melanjutkan cerita dengan mandiri.

Penutup

Novel Nadira menjadi gambaran besar peristiwa yang umum terjadi di dalam keluarga. Jalinan adik kakak yang kurang baik, banyaknya miss di hubungan suami istri, dan kehidupan dunia kerja. Satu benang merah yang bisa disimpulkan adalah betapa pentingnya berkomunikasi.

Semua pelik masalah pada novel Nadira didasari oleh kurangnya komunikasi yang baik dan ego terlalu tinggi. Sehingga masalah tersebut tidak ada penyelesaian dan malah semakin membesar.

Pesan moral yang dapat diperoleh dari novel Nadira yaitu menjaga komunikasi yang baik kepada siapapun.

Demikian review novel Nadira karya Leila S. Chudori.

Baca Juga: Review Novel: The Name of The Game Karya Adelina Ayu