**Disclaimer: Semua ulasan di sini lahir dari pengalaman pribadi saya sebagai pembaca. Saya bukan ahli, hanya seseorang yang mencintai buku dan menuliskannya dari sudut pandang sendiri.
The Name of The Game, karya tulis yang menjadi titik lunturnya ego dan gengsi saya memasukkan novel romantis teenlit ke dalam daftar bacaan.
Omong-omong, intro ini akan cukup panjang sebelum memasuki inti review buku.
Kalau kamu ingin langsung baca review saya pada novel The Name of The Game silakan scroll down menuju bagian Ini Review.
Jika kamu membaca kata-kata ini, baiklah saya akan melanjutkan..
Saya ingat sekali sempat ragu membeli novel ini setelah banyak pertimbangan. Bilang saja saya adalah kaum judge the book by its cover.
Dari dulu, sebisa mungkin menghindari bacaan dengan sampul yang teenlit banget, contohnya gambar seorang gadis SMA, dengan rambut panjangnya yang bergelombang, berdiri di antara dua lelaki baru puber. \
Dan, semuanya dibuat ala animasi atau kartun atau apapun itu sebutannya.
Tidak perlu ragu lagi, saya pasti melewati semua buku dengan cover tersebut.
Pokoknya, saya tidak mau membeli atau membaca buku yang sampulnya seperti itu. Bikin ill feel.
Titik.
Ternyata, novel The Name of The Game dengan sampul hampir sama yang bikin saya ill feel, malah masuk menjadi daftar bacaan saya (Gara-gara sering baca review sobat bookstagram lain).
Siapa sangka, sikap skeptis saya malah luntur begitu saja setelah menyelesaikan bacaan ini.
Karya tulis Adelina berhasil membuat saya merobohkan gengsi dan menerima fakta bahwa novel dengan sampul yang seperti itu ternyata isinya membuat saya terkesan. Bikin saya malu sendiri.
Tulisannya patut diacungi jempol.
Tidak selamanya kita perlu mengamini kutipan judge the book by its cover. Ada kalanya saya perlu mengenal isinya terlebih dahulu.
Pada akhirnya, The Name of The Game menjadi novel comfort read yang membantu saya healing dari rasa suntuk, rasa lelah, dan capek.
Penutup manis sebelum tidur setelah dihantam realita dari pagi hingga sore.
Di sini saya akan membagikan ulasan setelah membaca buku ini dalam seminggu.
Berikut adalah ulasan saya pada novel The Name of The Game karya Adelina Ayu.
Intinya Tentang Apa?
Sebelum memulai, saya akan menjabarkan terlebih dahulu garis besar tentang novel ini.
The Name of The Game menceritakan tentang tiga mahasiswa yang terjebak pada lingkaran cinta segitiga yang menggemaskan.
Seorang gadis mahasiswa baru bernama Flo, berjumpa dengan dua mahasiswa senior: Zio si cowok klimis-klimis dan Daryll si cowok cool idola para mahasiswi.
Kedua cowok ini adalah sahabat lama. Walau begitu, ternyata mereka memendam rasa iri satu sama lain. Bukan hanya soal Flo, tetapi hampir segala aspek.
Flo menyukai Daryll, Zio menyukai Flo, tetapi bagaimana dengan Daryll? Temukan jawabannya sendiri.
Ketiganya berusaha menemukan jati diri, melawan insecurity, berjuang di antara stigma toxic masculinity.
Yup, toxic masculinity. Bacaan ringan ini menyampaikan sikap seputar kesetaraan gender, feminisme, dan toxic masculinity. Ini merupakan kejutan tersendiri buat saya.
Saya curiga, jangan-jangan si penulis sebenarnya ingin menyampaikan opininya seputar isu kesetaraan yang dibungkus dengan cerita cinta segitiga sebagai pemanis? Hahaha (peace, ya)
Seperti itulah garis besar cerita dari novel ini. Selanjutnya saya akan memaparkan ulasan atau penilaian saya berikut.
Ini Review
| Pros | Cons |
|---|---|
| Gaya bahasa yang ‘ngobrol’ banget dan mengalir | Alur mudah ditebak |
| Penempatan karakter Flo sebagai penengah karakter Zio dan Daryll | Diksi yang umum |
| Membangun karakter Zio sebagai lelaki straight yang flamboyan | |
| Menyelipkan pesan kuat dengan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti | |
| Karakter Daryll cowok cool dengan sisi unik yang jarang sekali ditemukan | |
| Penggambaran lokasi yang spesifik | |
| Penggambaran ending yang memuaskan sekaligus buat penasaran |
Kelebihan Novel The Name of The Game Karya Adelina Ayu
Novel The Name of The Game resmi masuk sebagai pilihan buku rekomendasi saya jika ada yang meminta saran novel yang ringan-ringan.
Adelina memperkenalkan ketiga karakter utama (Flo, Zio, dan Daryll) menggunakan POV (Point of view) masing-masing. Sehingga pembaca akan mengerti isi otak setiap karakter.
Berawal dari kegelisahan Flo sebagai mahasiswa baru yang sulit beradaptasi dengan dunia perkuliahan, yang akhirnya membawa ia mengenal Zio dan Daryll di momen yang berbeda.
Ketidaksengajaan Flo yang berusaha sok akrab dengan berkenalan pada orang baru, ternyata berujung pada cinta segitiga yang kebetulan dua orang yang baru dikenalnya adalah berteman dekat.
Karakter Zio dibangun sebagai cowok yang berbeda secara konsisten dari awal cerita.
Menyukai hal-hal yang menurut stigma sosial tidak wajar dilakukan oleh laki-laki.
Namun ia berusaha keras tetap pada pendiriannya untuk menjadi diri sendiri. Walaupun di cerita ini Zio sempat insecure dan menjadi harapan orang lain.
Saya sangat menyukai bagaimana Adelina membentuk karakter Zio yang flamboyan tapi gentleman.
Ia mengutamakan kebutuhan dan kebahagiaannya secara terbuka di antara banyaknya laki-laki yang takut dibilang banci.
Contohnya menggunakan lipbalm untuk mengatasi bibir kering mudah berdarah.
Lebih menarik lagi adalah karakter Daryll ternyata menyimpan kejutan. Dibalik sifatnya cool dan tegas, karakter Daryll juga memiliki sisi lain yang menurut stigma sosial tidak wajar.
Pembaca akan diajak mengenal sisi-sisi feminim kedua pria ini dengan character development yang berbeda.
Meski gaya bahasa Adelina sangat kasual, pesan yang ia sampaikan melalui ketiga karakter tersebut sangat kuat.
Penulis jelas-jelas memiliki tujuan yang besar dan konkrit.
Menurut saya, cerita Adelina sangat jarang ditemukan pada novel-novel serupa. Tidak hanya sekedar bercerita tentang cinta-cintaannya saja.
Tetapi juga menyampaikan pandangan baru soal isu feminisme dan stigma maskulinitas melalui gaya penulisan yang mudah dimengerti.
Kekurangan Novel The Name of The Game Karya Adelina Ayu
Walau kalimat-kalimatnya mudah dipahami, sayangnya alur cerita novel mudah ditebak.
Secara garis besar cerita cinta segitiga pada novel ini mudah ditemukan pada cerita-cerita lain. Meski begitu, pembaca tetap dibikin gregetan dan gemas pada setiap karakter.
Alur yang mudah ditebak ini tentu sangat cocok sebagai pilihan bacaan ringan terutama bagi pemula yang ingin memulai baca buku.
Di sisi lain, diksi yang digunakan sangat umum dan berulang-ulang. Hal ini sangat wajar karena menyesuaikan gaya bahasa yang digunakan juga kasual.
Apalagi topik cerita juga seputar cinta segitiga mahasiswa, menggunakan diksi yang umum tentu lebih cocok.
Namun, semua ini kembali lagi pada penulis yang menciptakan cerita untuk menghidupkan ketiga karakternya.
Penutup
Pesan moral yang bisa diperoleh adalah tidak mengkotak-kotakkan perilaku berdasarkan stereotip atau prasangka hanya karena perbedaan gender.
Adelina meracik setiap karakter dengan kelebihan, kelemahan, dan keunikannya masing-masing.
Melalui bacaan ini, Adelina mengajak pembaca untuk mengenal stigma sosial yang ada di masyarakat dan menghargai setiap individu yang memiliki keunikannya masing-masing.
Kalau kamu menyukai novel yang ringan tanpa melupakan pesan moral yang kuat, maka novel The Name of The Game karya Adelina Ayu adalah pilihan yang tepat. Demikian ulasan saya untuk novel The Name of The Game.



